rumah ong boen tjit rumah saudagar tionghoa abad ke 17 yang masih dihuni keturunannya di tepi sungai mus - News | Good News From Indonesia 2026

Rumah Ong Boen Tjit, Rumah Saudagar Tionghoa Abad ke-17 yang Masih Dihuni Keturunannya di Tepi Sungai Mus

Rumah Ong Boen Tjit, Rumah Saudagar Tionghoa Abad ke-17 yang Masih Dihuni Keturunannya di Tepi Sungai Mus
images info

Dok. Cesar ZC (Google Maps)


 

Di tepi Sungai Musi, di kawasan Seberang Ulu yang dulu dikenal sebagai pusat perdagangan lintas budaya, berdiri sebuah rumah yang usianya sudah menyentuh tiga abad.

Rumah Ong Boen Tjit, yang beralamat di Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, dibangun pada abad ke-17 oleh seorang saudagar Tionghoa kaya yang namanya kemudian menjadi nama rumah itu sendiri. Lebih dari tiga ratus tahun berlalu, rumah ini masih berdiri dan masih dihuni oleh keturunan keenam Ong Boen Tjit.

Kawasan Seberang Ulu sendiri sudah lama menjadi tempat pertemuan berbagai etnis, dari Melayu, Arab, Jawa, hingga Tionghoa yang masing-masing meninggalkan jejak arsitektur dan budayanya. Rumah Ong Boen Tjit adalah salah satu yang paling utuh dari jejak-jejak itu.

Ornamen Tionghoa yang menghiasi seluruh bagian bangunan, penggunaan kayu tembesu yang tahan lama, dan tata ruang tiga bagian yang mengikuti tradisi rumah Tionghoa kuno semuanya masih terjaga dalam kondisi yang sangat baik untuk bangunan seusianya.

Bagi Kawan GNFI yang sedang di Palembang dan ingin menjelajahi sisi kota yang lebih dalam dari wisata konvensional, Rumah Ong Boen Tjit menawarkan pengalaman yang berbeda untuk melihat langsung bagaimana dua budaya yang berbeda bisa berbaur harmonis selama berabad-abad dalam satu bangunan yang masih hidup.

 

Sekilas Mengenai Rumah Ong Boen Tjit

Ong Boen Tjit adalah seorang saudagar Tionghoa yang membangun rumah ini pada abad ke-17 sebagai tempat tinggal dan pusat aktivitas perdagangannya.

Pada masa itu, sungai adalah jalur utama perdagangan Palembang, dan saudagar yang bermukim di tepian sungai memiliki akses terbaik terhadap arus barang dan manusia dari berbagai penjuru.

Secara arsitektur, rumah ini merupakan hasil akulturasi yang menarik antara tradisi Tionghoa dan budaya Melayu Palembang.

Dinding-dindingnya terbuat dari kayu tembesu, kayu lokal khas Sumatra yang dikenal sangat tahan terhadap cuaca dan hama. Sementara ornamen-ornamen yang menghiasinya, mulai dari ukiran pintu, motif cat, hingga peletakan altar, sepenuhnya mengikuti tradisi Tionghoa klasik.

Bangunannya dibagi menjadi tiga area utama yang mencerminkan fungsi berbeda.

Bagian depan digunakan sebagai ruang menerima tamu, bagian tengah menjadi altar dewa dan altar leluhur sebagai pusat aktivitas peribadatan keluarga, dan bagian belakang adalah area privat sebagai tempat tinggal pemilik.

Pembagian ini masih dipertahankan hingga hari ini oleh keturunan ke-6 yang menghuni rumah tersebut.

 

Daya Tarik Utama Rumah Ong Boen Tjit

Nilai utama berkunjung ke sini adalah kesempatan melihat langsung bangunan bersejarah yang masih hidup dan berfungsi.

Altar leluhur di bagian tengah masih aktif digunakan, ornamen-ornamen Tionghoa yang menghiasi dinding dan pintu masih terjaga dengan baik, dan atmosfer kesehariannya membuat pengunjung merasa seperti melangkah ke dalam kurun waktu yang berbeda.

Posisinya di tepi Sungai Musi menambahkan dimensi tersendiri. Dari kawasan ini, pengunjung bisa menyaksikan kesibukan sungai yang masih menjadi urat nadi transportasi dan kehidupan warga Palembang, terutama di sore hari saat cahaya keemasan jatuh di permukaan air.

Dermaga kecil yang ada di sisi rumah menjadi titik yang sangat diminati untuk duduk santai menghadap sungai, terutama menjelang matahari terbenam.

Di pelataran rumah, tersedia Café Ong Boen Tjit yang menyajikan makanan dan minuman khas Palembang. Menikmati hidangan di sini sambil memandang Sungai Musi adalah pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain di kota ini.

Bagi yang ingin pengalaman lebih, tersedia dua kamar homestay yang memungkinkan Kawan menginap langsung di dalam rumah bersejarah ini dan merasakan suasana Tionghoa klasik dalam keseharian.

 

Akses Menuju Rumah Ong Boen Tjit

Rumah Ong Boen Tjit berlokasi di Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, parkir tersedia di luar lorong karena ukuran lorong tidak memungkinkan kendaraan masuk langsung ke lokasi.

Cara yang paling menarik untuk menuju Rumah Ong Boen Tjit adalah menggunakan perahu ketek dari Benteng Kuto Besak di sisi lain Sungai Musi.

Dengan membayar Rp5.000 per orang, perahu akan menyeberangkan pengunjung melintas Sungai Musi dan tiba langsung di dekat lokasi. Perjalanan singkat di atas sungai ini sendiri sudah menjadi pengalaman wisata tersendiri yang khas Palembang.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Rumah Ong Boen Tjit buka setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 11.00 hingga 18.00 WIB. Khusus hari Minggu, jam operasionalnya lebih panjang yaitu mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB. Waktu terbaik berkunjung adalah sore hari menjelang pukul 16.00 untuk menikmati suasana sungai dan sunset dari dermaga.

Tidak ada tiket masuk yang dikenakan untuk berkunjung ke Rumah Ong Boen Tjit. Biaya yang perlu disiapkan adalah untuk menyeberang menggunakan perahu ketek jika berangkat dari Benteng Kuto Besak, serta biaya pemesanan menu di Café Ong Boen Tjit bagi yang ingin menikmati kuliner di lokasi. Untuk homestay, biaya bisa dikonfirmasi langsung kepada pengelola.

 

Ayo Berkunjung ke Rumah Ong Boen Tjit!

Rumah Ong Boen Tjit cocok untuk Kawan GNFI yang ingin merasakan Palembang dari sudut pandang yang berbeda.

Datanglah sore hari, gunakan perahu ketek dari Benteng Kuto Besak agar perjalanannya lebih berkesan, dan sempatkan duduk di dermaga sambil menikmati kuliner Palembang dari café-nya.

Ini adalah salah satu cara terbaik untuk memahami bahwa Palembang juga memiliki lapisan budaya yang sudah berbaur selama ratusan tahun.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.