Kapan terakhir kali Kawan GNFI mengonsumsi sarden kaleng? Sarden adalah satu makanan praktis favorit masyarakat dengan kandungan yang kaya akan nutrisi. Namun, makanan kemasan ini pernah menjadi perbincangan di media sosial.
Sebagian orang mengeklaim bahwa sarden kaleng otomatis buruk dan tergolong Ultra-Processed Food (UPF), sementara pihak lain menganggapnya sebagai sumber protein yang aman. Namun, benarkah sarden kaleng selalu masuk ke dalam daftar hitam UPF?
Benarkah Sarden Kaleng Otomatis Tergolong UPF?
Status sarden kaleng tidak serta-merta dicap sebagai pangan Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan sehat tanpa syarat, tetapi bergantung pada apa yang tertera di label komposisinya. Jika hanya diolah menggunakan bahan-bahan sederhana seperti ikan sarden, air, minyak, garam, dan saus tomat alami, maka sarden kaleng tegolong dalam kategori makanan olahan biasa atau processed food.
Pengolahan pada tahap ini murni bertujuan meningkatkan keamanan pangan serta memperpanjang daya simpannya tanpa mengubah esensi nilai gizi alaminya.
Namun, sarden kemasan akan langsung bergeser menjadi kategori pangan Ultra-Processed Food (UPF) apabila komposisi mengandung bahan kimia industri yang jarang ada di dapur rumah, seperti penguat rasa sintetis (dinatrium inosinat atau guanilat), pengawet buatan natrium benzoat, emulsifier, pewarna buatan, atau hydrolysed protein.
Peringatan untuk Penderita Penyakit Kronis
Dikutip dari Departemen Gizi Kesehatan, Universitas Gadjah Mada (UGM), konsumsi sarden kaleng tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena penderita penyakit kronis memerlukan pembatasan serta modifikasi konsumsi tertentu.
Bagi penderita hipertensi dan penyakit ginjal kronis, konsumsi sarden kaleng sebaiknya dibatasi maksimal satu kali saja per minggu karena kandungan natriumnya yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 200 hingga 500 miligram per 100 gram tergantung merek. Kelompok ini sangat disarankan untuk selalu memilih produk tanpa tambahan garam, seperti label rendah natrium (low sodium atau no salt added), serta menghindari konsumsi air atau kuah di dalam kalengnya.
Sementara itu, penderita diabetes melitus sangat dianjurkan untuk menghindari sarden dalam varian saus manis, seperti saus barbekyu atau saus tomat dengan gula tambahan, dan beralih ke produk sarden yang dikemas dalam air (in water) atau minyak zaitun tanpa tambahan gula.
Terakhir, karena sarden tergolong sebagai makanan tinggi purin, penderita asam urat (gout) atau hiperurisemia sebaiknya hanya mengonsumsi hidangan praktis ini secara sangat jarang, yaitu berkisar satu hingga dua kali saja dalam sebulan dengan porsi kecil antara 50 hingga 75 gram, serta wajib berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengonsumsinya.
Sebagai gantinya, Kawan sangat disarankan untuk menambahkan berbagai jenis sayuran segar berserat tinggi seperti brokoli atau bayam ke dalam tumisan sarden.
Secara ilmiah, serat dari sayuran ini akan membantu mereduksi penyerapan natrium berlebih di dalam saluran pencernaan kita sehingga secara signifikan meringankan beban kerja organ ginjal.
Langkah Cerdas Mengonsumsi Sarden Kaleng
Meskipun sarden kaleng menyimpan limpahan protein berkualitas tinggi serta asam lemak omega-3 (EPA dan DHA) yang sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan otak, tantangan terbesarnya tetap terletak pada keberadaan bahan tambahan pangan serta kadar garam yang perlu dicermati.
Oleh karena itu, kunci utama untuk menikmati manfaat nutrisi tersebut ada pada kecerdasan Kawan sebagaikonsumen dalam menyeleksi produk. Melalui kebiasaan cerdas dengan membaca dan memahami tabel komposisi di balik kemasan, kita dapat secara bijak menghindari produk dengan daftar zat aditif kimia serta membatasi asupan natrium demi menjaga kesehatan tubuh jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


