Pemecahan Rekor MURI puisi guru dengan penulis terbanyak ini dari kolaborasi penerbit SIP Publishing, Perpustakaan Nasional dan Ikatan Guru Indonesia. Saat ini masih di tahap awal dan sosialisasi hingga 6 September 2026. Setelah itu, peserta akan mengikuti pelatihan menulis puisi bersama Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, pada 7 September 2026.
Buku tersebut direncanakan menjadi bagian dari perjalanan menuju pemecahan Rekor MURI kolaborasi bersama penerbit SIP Publishing, Perpustakaan Nasional dan Ikatan Guru Indonesia yang akan diluncurkan pada puncak acara yang dijadwalkan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada (2/12/2026).
Pemecahan Rekor Muri saat puncak acara akan dihadiri oleh Prof Aminudin Aziz selaku Kepala Perpustakaan Nasional, Dr. Danang Hidayatullah sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Gol A Gong selaku Duta Baca Indonesia 2021-2026 dan Mas Indra Gunawan sebagai Direktur penerbit SIP Publishing dan Ketua Yayasan Rumah Indonesia Menulis. Mereka akan menyampaikan sambutan dan juga perkembangan proses pemecahan rekor muri ini.
Program ini mengusung tema “Menulis Puisi untuk Guru” dan membuka kesempatan bagi berbagai kalangan untuk ikut serta. Guru, dosen, siswa, mahasiswa, penulis, pegiat literasi, hingga masyarakat umum dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Peserta juga dapat berasal dari seluruh wilayah Indonesia maupun mancanegara.
Rekor yang tidak dibangun dalam satu hari, karena saat ini sudah hampir 2000 penulis yang ikut serta. Sebuah rekor sering kali hanya terlihat pada hari puncaknya. Kamera menyala, piagam diserahkan, nama pencapaian diumumkan, lalu orang-orang pulang dengan membawa dokumentasi. Padahal, sebelum sampai pada panggung tersebut, ada proses panjang yang sering tidak terlihat.
Tahap berikutnya adalah proses penerimaan dan pengumpulan naskah, yang kemudian dilanjutkan dengan penerbitan buku, kurasi karya, hingga puncak acara. Kegiatan ini masih berada pada fase membangun partisipasi. Rekor belum bisa dinyatakan tercapai karena proses pengumpulan karya dan tahapan menuju pengajuan pencapaian masih berlangsung.
Di sinilah menariknya sebuah gerakan literasi. Yang sedang dibangun bukan hanya angka penulis. Setiap peserta membawa pengalaman, bahasa, dan cara pandangnya sendiri dalam memaknai guru.
Dari pelatihan hingga pengumpulan puisi, pemecahan ini berperan penting pada menulis puisi yang sering dianggap sebagai pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh penyair. Seolah-olah seseorang harus lebih dahulu memahami metafora, majas, dan berbagai teori sastra sebelum berani menulis.
Program ini mencoba membuka pintu yang lebih luas. Peserta diwajibkan mengikuti sosialisasi atau pelatihan menulis sebelum mengirimkan karya. Pelatihan dapat diikuti melalui Zoom atau YouTube, sementara peserta juga dapat modul, video materi, dan e-sertifikat senilai 34 Jam Pelajaran.
Setelah itu, peserta dapat mengirimkan antara satu hingga lima judul puisi dengan tema guru. Karya yang dikirim harus orisinal, bukan hasil plagiasi, saduran, atau terjemahan. Batas pengiriman naskah tercantum pada 28 September 2026.
Aturan tersebut menunjukkan bahwa jumlah bukan satu-satunya hal yang ingin dikejar. Jika sebuah kegiatan ingin mengumpulkan sebanyak mungkin karya, kualitas dan orisinalitas tetap menjadi persoalan penting.
Sebab, rekor mungkin dapat dihitung melalui angka, tetapi sebuah gerakan literasi akan lebih bermakna jika meninggalkan karya yang benar-benar lahir dari pengalaman dan pemikiran penulisnya. Tahap selanjutnya membuka kemungkinan bagi karya yang lolos kurasi untuk diterbitkan dalam sebuah buku antologi puisi bertema “Guru” bersama Gol A Gong.
Puncak acara tersebut juga direncanakan menjadi momentum peluncuran buku dan penyerahan piagam Rekor MURI. Namun, penting untuk melihatnya sesuai tahap kegiatan, pada agenda tersebut masih merupakan rencana dalam rangkaian program, bukan bukti bahwa Rekor MURI telah berhasil dipecahkan.
Justru di situlah cerita ini dimulai. Sebuah buku antologi dapat mempertemukan penulis yang mungkin tidak pernah saling mengenal. Ada guru yang menulis tentang profesinya sendiri. Ada murid yang menulis tentang sosok yang pernah mengubah hidupnya. Ada pula masyarakat umum yang ingin menyampaikan rasa terima kasih melalui bahasa yang lebih personal.
Kegiatan ini lebih dari sekadar mengejar rekor MURI. Program ini juga menyiapkan penghargaan bagi 15 peserta terbaik dengan total hadiah Rp15 juta serta e-piagam bagi 200 peserta terbaik. Penilaian dan kurasi dijadwalkan berlangsung sebelum pengumuman pemenang pada 9 Desember 2026.
Ada sesuatu yang menarik ketika ribuan orang, atau sebanyak mungkin penulis yang terlibat nantinya, diminta berhenti sejenak dan memikirkan satu sosok: guru. Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, puisi menjadi ruang untuk kembali mengingat bahwa pendidikan tidak hanya dibangun oleh kurikulum, ruang kelas, dan nilai ujian.
Pendidikan juga tumbuh melalui kata-kata sederhana yang pernah diucapkan seorang guru kepada muridnya. Mungkin, tidak semua puisi yang lahir akan menjadi karya besar. Tidak semua penulis akan memenangkan hadiah. Tetapi setiap puisi memiliki kemungkinan untuk menjadi catatan kecil tentang hubungan manusia dengan pendidikan.
Pemecahan Rekor MURI “Menulis Puisi untuk Guru” saat ini masih berada di garis awal. Prosesnya masih berjalan, karya masih dikumpulkan, dan hasil akhirnya belum dapat dipastikan.
Namun, barangkali memang begitu cara sebuah rekor dimulai. Bukan dari piagam yang sudah tergantung di dinding, melainkan dari halaman kosong dan keberanian seseorang menulis kalimat pertama.
Lalu, satu puisi bertemu dengan puisi lainnya. Satu penulis mengajak penulis lain. Hingga pada akhirnya, kata-kata yang semula ditulis dalam kesunyian dapat berubah menjadi sebuah peristiwa bersama.
Dan sebelum Rekor MURI benar-benar diumumkan, perjalanan itu sudah lebih dahulu mengajarkan satu hal bahwa penghargaan terhadap guru dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu memberi mereka tempat untuk tetap hidup dalam kata-kata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


