Minyak jelantah tidak hanya menjadi limbah rumah tangga. Jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik, minyak bekas memasak tersebut dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus bahan baku energi terbarukan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengembangkan U-Collect Box untuk memperkuat sistem pengumpulan minyak jelantah.
Teknologi ini ditujukan untuk membantu masyarakat dan pelaku usaha mengumpulkan minyak jelantah agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku biodiesel, renewable diesel, dan bahan bakar pesawat berkelanjutan atau sustainable aviation fuel atau SAF.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan minyak jelantah memiliki nilai ekonomi jika dikumpulkan dan disalurkan melalui sistem yang tepat.
“Minyak jelantah dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku energi,” katanya.
Meningkatnya kebutuhan biofuel turut mendorong permintaan minyak jelantah sebagai bahan baku. Kondisi ini membuka peluang ekonomi bagi rumah tangga, UMKM, usaha kuliner, dan komunitas yang mengumpulkan minyak bekas tersebut.
Namun, peluang itu hanya dapat berkembang jika minyak jelantah dikumpulkan secara teratur. Jumlah dan asal minyak juga perlu dicatat agar rantai pasoknya dapat ditelusuri.
Hubungkan Masyarakat dan Industri
BRIN mengembangkan U-Collect Box bersama PT Noovoleum Indonesia. Perangkat ini dirancang untuk memudahkan rumah tangga dan UMKM menyerahkan minyak jelantah.
U-Collect Box menggunakan teknologi Internet of Things atau IoT. Sensor, aplikasi, dan dasbor digunakan untuk memantau volume minyak serta mencatat proses pengumpulan secara waktu nyata.
Minyak yang terkumpul kemudian dapat dikirim untuk diproses menjadi bahan bakar nabati generasi kedua. Produk akhirnya dapat berupa biodiesel, renewable diesel, dan SAF.
Sistem tersebut membantu membangun hubungan antara masyarakat sebagai pengumpul dan industri sebagai pengguna bahan baku. Dengan begitu, minyak jelantah memiliki jalur pemanfaatan yang lebih jelas.
Sudah Kumpulkan 6.000 Liter Minyak Jelantah
Sekitar 300 unit U-Collect Box telah ditempatkan di Indonesia dan Thailand. Program tersebut telah mengumpulkan sekitar 6.000 liter minyak jelantah dan menghasilkan sekitar 5.800 liter biofuel.
Noovoleum juga menjalankan program Local Hero dengan melibatkan komunitas dan sekolah. Sekitar 55 persen pendapatan program didistribusikan kembali kepada masyarakat.
Program edukasi mengenai pengumpulan minyak jelantah telah menjangkau sekitar 400 sekolah. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ekonomi sirkular.
Dalam ekonomi sirkular, limbah tidak langsung dibuang. Limbah dikumpulkan dan diolah kembali menjadi produk atau bahan baku yang memiliki nilai.
Peluang Pendapatan Bergantung pada Titik Pengumpulan
Ketersediaan titik pengumpulan menjadi salah satu faktor penting dalam mengembangkan bisnis minyak jelantah.
Hasil sementara survei BRIN menunjukkan masyarakat mengharapkan U-Collect Box tersedia di berbagai tempat. Lokasi yang dinilai potensial antara lain minimarket, SPBU, permukiman, apartemen, dan pasar modern.
Semakin mudah aksesnya, semakin besar peluang masyarakat untuk mengumpulkan minyak jelantah. Hal ini dapat meningkatkan pasokan bahan baku bagi industri biofuel.
U-Collect Box juga berpotensi memberikan manfaat bagi UMKM dan usaha kuliner. Minyak bekas yang sebelumnya dibuang dapat dikumpulkan dan masuk ke rantai ekonomi yang lebih produktif.
Rantai Pasok Perlu Dikelola dengan Efisien
Perekayasa Ahli Muda BRIN, Hismiaty Bahua, mengatakan nilai ekonomi sirkular mulai terbentuk sejak minyak jelantah dikumpulkan.
“Nilai ekonomi sirkular dari limbah mulai terbentuk ketika limbah tersebut dikumpulkan. Karena itu, proses pengumpulan perlu dilakukan secara terorganisasi dan seluruh minyak yang terkumpul harus dicatat,” ujarnya.
BRIN menilai pengembangan bisnis minyak jelantah tetap perlu memperhatikan biaya operasional. Biaya tersebut meliputi produksi U-Collect Box, pengumpulan dari rumah atau tempat usaha, pengangkutan, hingga pengolahan di kilang.
BRIN menggunakan kajian life cycle costing atau LCC untuk menghitung investasi, biaya operasional, biaya per unit, dan aspek ekonomi lainnya.
Selain itu, BRIN menggunakan metode life cycle assessment atau LCA untuk menghitung emisi pada setiap tahap rantai pasok. Emisi dapat muncul saat minyak dikumpulkan, diangkut, diolah menjadi SAF, dan didistribusikan ke bandara.
Dengan kajian tersebut, pengembangan minyak jelantah tidak hanya mengejar nilai ekonomi. Sistemnya juga diharapkan efisien, dapat ditelusuri, dan memberi manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

