genzim dari sisa dapur jadi berkah menanam kesadaran lingkungan lintas generasi - News | Good News From Indonesia 2026

GENZIM: Dari Sisa Dapur jadi Berkah, Menanam Kesadaran Lingkungan Lintas Generasi

GENZIM: Dari Sisa Dapur jadi Berkah, Menanam Kesadaran Lingkungan Lintas Generasi
images info

Mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026 Ajak Pelajar SMP dan Ibu Kader Desa Singgahan Mengolah Sisa Dapur Menjadi Eco Enzyme | Dokumentasi Pribadi


Setiap hari, dapur rumah tangga menghasilkan sesuatu yang sering kali dianggap tidak lagi berguna: kulit buah, sisa sayuran, dan berbagai potongan bahan makanan. Setelah makanan selesai diolah, sisa-sisa tersebut biasanya berakhir di tempat sampah tanpa banyak dipikirkan.

Padahal, apa yang dianggap sebagai sisa tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali. Persoalan sampah organik inilah yang coba dijawab dari lingkungan paling sederhana: rumah tangga. Melalui program GENZIM (Generasi Eco Enzyme), mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026 di Desa Singgahan mengajak masyarakat mengenal cara mengolah sisa kulit buah dan sayur menjadi eco enzyme.

Eco enzyme merupakan larutan hasil fermentasi sisa kulit buah dan sayur yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, mulai dari pembersih alami hingga keperluan pengelolaan lingkungan.

Namun, GENZIM tidak hanya berbicara tentang bagaimana membuat sebuah larutan. Program ini membawa pesan yang lebih sederhana: bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari apa yang ada di dapur sendiri.

Belajar Mengolah Sisa, Belajar Menjaga Lingkungan

Peserta mempraktikkan langsung tahapan awal pembuatan eco enzyme dalam kegiatan GENZIM | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Peserta mempraktikkan langsung tahapan awal pembuatan eco enzyme dalam kegiatan GENZIM | Dokumentasi Pribadi


Dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sisa makanan menduduki peringkat pertama jenis sampah di Indonesia dengan porsi sekitar 40%, sementara sumber utama timbulan sampah didominasi oleh aktivitas rumah tangga yang mencapai hampir 70% dari total keseluruhan.

Karena itu, pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Kebiasaan memilah dan memanfaatkan kembali sisa bahan makanan di rumah dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengenalkan masyarakat pada pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

Melalui GENZIM, peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai eco enzyme, tetapi juga diajak mempraktikkannya secara langsung. Mereka diperkenalkan pada bahan dan alat yang diperlukan, proses pencampuran, hingga tahapan fermentasi yang perlu dilakukan sebelum eco enzyme dapat dipanen dan disimpan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam tiga sesi dengan sasaran yang berbeda. Dua sesi menyasar pelajar SMP pada 17 dan 31 Juli 2026, sementara satu sesi lainnya menyasar ibu-ibu kader desa pada 29 Juli 2026.

Materinya sama. Namun, pengalaman yang muncul di setiap pertemuan ternyata berbeda.

baca juga

Satu Materi, Dua Generasi

Belajar sambil praktik, para pelajar SMP mengenal proses pembuatan eco enzyme dan melihat langsung bagaimana sisa organik dapat dimanfaatkan kembali | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Belajar sambil praktik, para pelajar SMP mengenal proses pembuatan eco enzyme dan melihat langsung bagaimana sisa organik dapat dimanfaatkan kembali | Dokumentasi Pribadi


Di hadapan para pelajar SMP, GENZIM berlangsung dengan suasana penuh rasa ingin tahu.

Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat dalam praktik. Mereka mencoba menimbang dan memotong bahan secara langsung, sekaligus mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses fermentasi yang akan berlangsung setelah kegiatan selesai.

Perubahan warna dan aroma selama proses fermentasi menjadi salah satu hal yang menarik perhatian mereka. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut, pembelajaran mengenai lingkungan menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dipraktikkan secara langsung.

Bagi generasi muda, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal bahwa sisa kulit buah dan sayuran yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat dimanfaatkan.

Bersama ibu-ibu kader desa, GENZIM menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang pengelolaan sisa organik yang dekat dengan aktivitas sehari-hari | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Bersama ibu-ibu kader desa, GENZIM menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang pengelolaan sisa organik yang dekat dengan aktivitas sehari-hari | Dokumentasi Pribadi


Suasana berbeda terasa ketika GENZIM dibawa kepada ibu-ibu kader desa. Jika para pelajar datang dengan rasa ingin tahu, para ibu kader lebih banyak melihat eco enzyme dari sisi kebutuhan sehari-hari.

Sisa kulit buah dan sayuran merupakan bagian dari aktivitas rumah tangga yang mereka temui setiap hari. Karena itu, pembahasan mengenai cara memanfaatkannya memunculkan berbagai pertanyaan praktis.

Diskusi pun berkembang menjadi percakapan mengenai bagaimana eco enzyme dapat diterapkan di rumah masing-masing.

Di titik inilah GENZIM menemukan maknanya. Pengetahuan mengenai pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi bertemu dengan pengalaman dan kebutuhan yang berbeda pada setiap generasi.

Dari Pelatihan jadi Bekal untuk Dilanjutkan

Modul pembuatan eco enzyme diserahkan sebagai bekal bagi peserta untuk melanjutkan praktik secara mandiri setelah kegiatan GENZIM selesai | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Modul pembuatan eco enzyme diserahkan sebagai bekal bagi peserta untuk melanjutkan praktik secara mandiri setelah kegiatan GENZIM selesai | Dokumentasi Pribadi


Bagi mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026, satu kali pertemuan tidak cukup untuk memastikan sebuah kebiasaan dapat terus berjalan.

Mahasiswa memang hanya berada di Desa Singgahan dalam waktu terbatas. Karena itu, GENZIM dirancang agar pengetahuan yang telah diberikan tetap dapat digunakan setelah rangkaian kegiatan selesai.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, tim menyusun modul pembuatan eco enzyme yang diserahkan kepada pelajar SMP maupun ibu-ibu kader.

Materi tersebut diharapkan dapat menjadi pegangan ketika peserta ingin kembali mempraktikkan pembuatan eco enzyme secara mandiri. Bagi pelajar, modul menjadi sarana untuk melanjutkan rasa ingin tahu terhadap pengelolaan lingkungan. Sementara bagi ibu-ibu kader, panduan tersebut dapat digunakan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan GENZIM tidak berhenti ketika sesi praktik selesai. Pengetahuan yang dibagikan diharapkan dapat berpindah dari ruang pelatihan ke rumah masing-masing.

baca juga

Ketika Kepedulian Tumbuh Lintas Generasi

Berbeda generasi, satu kepedulian. GENZIM menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan menumbuhkan kebiasaan baru dalam menjaga lingkungan, bersama-sama | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Berbeda generasi, satu kepedulian. GENZIM menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan menumbuhkan kebiasaan baru dalam menjaga lingkungan, bersama-sama | Dokumentasi Pribadi


GENZIM membawa satu gagasan sederhana: mengelola lingkungan dapat dimulai dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kulit buah dan sisa sayuran yang sebelumnya dianggap sebagai sampah diperkenalkan kembali sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan. Dari sana, peserta diajak melihat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan besar yang berada jauh dari kehidupan mereka, tetapi juga dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil di rumah.

Yang lebih penting, pesan tersebut tidak berhenti pada satu kelompok usia.

Pelajar SMP diperkenalkan pada pengelolaan sampah sejak dini, sementara ibu-ibu kader mendapatkan pengetahuan yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan rumah tangga. Ketika keduanya membawa pulang pengetahuan yang sama dengan pengalaman yang berbeda, terbuka peluang bagi kesadaran lingkungan untuk tumbuh dan menyebar dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada akhirnya, GENZIM bukan sekadar tentang membuat eco enzyme, tetapi tentang mengubah cara pandang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sisa.

Sebab, perubahan terhadap lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah yang besar. Bisa jadi, ia dimulai dari kulit buah yang tidak lagi dibuang, dari satu wadah fermentasi di sudut rumah, atau dari seorang anak yang pulang membawa cerita baru tentang bagaimana menjaga lingkungannya.

Dari sisa dapur, tumbuh sebuah kebiasaan. Dari satu kebiasaan, tumbuh kesadaran. Dan dari kesadaran yang dibagikan lintas generasi, terbuka peluang bagi perubahan yang lebih luas di Desa Singgahan.

 

 

 

 

Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian publikasi program kerja KKNT Inovasi IPB 2026 di Desa Singgahan.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.