ketika humas menjadi aktor strategis transformasi perguruan tinggi indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Humas jadi Aktor Strategis Transformasi Perguruan Tinggi Indonesia

Ketika Humas jadi Aktor Strategis Transformasi Perguruan Tinggi Indonesia
images info

Menteri Brian Yuliarto bersama jajaran Kemdiktisaintek berinteraksi dengan perwakilan penerima program Semesta 2025 (dok. Iwan Santosa)


Keberhasilan perguruan tinggi selama ini lebih banyak diukur melalui capaian akademik. Publikasi ilmiah, sitasi, paten, akreditasi, dan posisi dalam berbagai pemeringkatan menjadi indikator utama yang menentukan reputasi sebuah institusi.

Namun, perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku masyarakat memunculkan tantangan baru. Di tengah melimpahnya informasi yang beredar setiap hari, masyarakat tidak hanya perlu mengetahui bahwa penelitian telah dilakukan, yang nyatanya sudah menjadi kewajiban tridarma kampus mana pun.

Mereka juga perlu diajak memahami mengapa penelitian itu penting dan bagaimana kontribusinya terhadap kehidupan mereka. Perguruan tinggi saat ini tidak hanya berfokus untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi, melainkan juga perlu mengomunikasikannya.

Perubahan kebutuhan tersebut menggeser cara pandang terhadap fungsi komunikasi di lingkungan perguruan tinggi. Jika sebelumnya humas lebih banyak dikenal sebagai unit yang mengelola publikasi kegiatan, relasi media, dan komunikasi kelembagaan, kini perannya mulai berkembang ke wilayah yang lebih strategis.

baca juga

Rupanya, ini bukan persoalan sederhana. Humas dituntut mampu menjembatani dunia akademik dengan masyarakat.

Perubahan itu tidak luput dari perhatian pemerintah. Bahkan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada 2025 menginisiasi program khusus Resona Saintek untuk mengatasi persoalan tersebut.

Untuk pertama kalinya, humas perguruan tinggi ditempatkan secara eksplisit sebagai bagian dari ekosistem saintek yang diperkuat dengan dukungan khusus. Dalam program Resona, humas diposisikan sebagai penggerak ekosistem komunikasi sains yang bertugas menjembatani hasil penelitian dengan publik.

Dengan pendekatan seperti itu, komunikasi tidak lagi dipandang sebagai fungsi pendukung, tetapi sebagai salah satu unsur penting yang ikut menentukan sejauh mana hasil riset dan substansi saintek dapat menjangkau masyarakat.

Saat ini, program Resona berlanjut memasuki tahun kedua. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan komunikasi sains bukan agenda sesaat. Setidaknya ada sinyal bahwa pemerintah mulai konsisten melihat komunikasi sebagai bagian penting dari upaya meningkatkan dampak penelitian dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi.

Mengapa Komunikasi Sains menjadi Penting?

Kita hidup pada masa ketika arus informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk memverifikasinya. Media sosial memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik. Kondisi ini juga memperbesar ruang tumbuhnya misinformasi dan klaim yang tidak selalu didukung bukti atau kebenaran ilmiah.

Ironisnya, ketika berbagai informasi yang meragukan dapat dengan mudah menjangkau publik, banyak hasil penelitian perguruan tinggi justru sulit diakses oleh masyarakat umum.

Bahasa yang terlalu teknis, format penyampaian yang cenderung rumit, dan terbatasnya upaya diseminasi membuat berbagai temuan penting sering kali berhenti di lingkungan yang terbatas.

Padahal, perguruan tinggi kerap menghasilkan beragam penelitian yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari kesehatan, pangan, energi, lingkungan, teknologi digital, hingga pelestarian budaya. Berbagai isu tersebut tidak hanya membutuhkan penelitian yang kuat, tetapi juga komunikasi yang efektif agar manfaatnya dapat dipahami publik.

Dalam situasi seperti itu, timbullah kebutuhan akan komunikasi sains.

Komunikasi sains bukan sekadar kegiatan menyebarluaskan informasi penelitian, melainkan upaya menerjemahkan temuan ilmiah ke dalam bahasa yang dapat dipahami berbagai kelompok masyarakat tanpa kehilangan akurasi dan konteksnya.

Merespons kebutuhan ini, humas memiliki peran yang lebih besar. Jika dahulu humas lebih banyak bertugas menyampaikan apa yang dilakukan kampus, kini mereka harus berupaya lebih keras agar hasil penelitian dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

baca juga

Humas perguruan tinggi tidak cukup hanya menguasai teknik komunikasi konvensional. Mereka juga perlu memahami proses penelitian, mengenali isu-isu strategis, membaca dinamika opini publik, serta mampu mengelola berbagai platform digital yang kini menjadi sumber informasi utama masyarakat.

Perubahan itu mulai terlihat di sejumlah perguruan tinggi Indonesia. Program-program komunikasi sains mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih erat antara peneliti dan pengelola komunikasi. Penelitian tidak lagi dipandang selesai ketika dipublikasikan, melainkan ketika pengetahuan yang dihasilkan mampu menjangkau khalayak yang lebih luas.

Melalui program Resona Saintek 2025 dan 2026, Kemdiktisaintek telah memberikan mandat kepada tim humas dari 21 perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta (PTS) nasional untuk melaksanakan fungsi strategis komunikasi sains.

Kepercayaan dan dukungan sumber daya yang diberikan oleh Kemdiktisaintek kepada sejumlah perguruan tinggi yang berhasil lolos seleksi tersebut bukan semata-mata menjadi capaian institusional. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi sains mulai dipandang sebagai bagian dari investasi strategis perguruan tinggi dalam memperluas dampak riset yang dihasilkannya.

Capaian program Resona Saintek dipamerkan dalam acara Repertoar 2025 di Jakarta (20/12/2025).
info gambar

Capaian program Resona Saintek dipamerkan dalam acara Repertoar 2025 di Jakarta (20/12/2025).


Resona Saintek sebagai bagian dari program besar Semesta (Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara) ikut menandai transformasi perguruan tinggi Indonesia dalam napas Diktisaintek Berdampak.

Selama ini, transformasi perguruan tinggi kerap dibahas dalam konteks riset, inovasi, hilirisasi, atau penguatan sumber daya manusia. Namun, terdapat dimensi lain yang semakin penting, yakni kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan masyarakat. Dalam kerangka inilah komunikasi sains menunjukkan peran krusial.

baca juga

Ketika masyarakat memahami manfaat sebuah penelitian, kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan akan tumbuh. Ketika hasil-hasil riset lebih dikenal dan dimanfaatkan, relevansi perguruan tinggi pun menjadi semakin nyata.

Masa depan perguruan tinggi Indonesia tampaknya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga kemampuan menghadirkan pengetahuan tersebut ke tengah masyarakat.

Dengan demikian, peran humas perguruan tinggi akan semakin bergeser dari fungsi komunikatif yang bersifat administratif menuju fungsi strategis yang berkontribusi pada misi pendidikan tinggi nasional. Humas tidak lagi sekadar menjadi penyampai pesan, melainkan sebagai pusat ekosistem yang menjadi penghubung penting antara dunia akademik dan ruang publik.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.