aquamood indikator visual - News | Good News From Indonesia 2026

AQUAMOOD: Bukan Sekadar Lucu, Boneka Karya Mahasiswa IPB Ini Bantu Petani Urban Cek Kondisi Tanah

AQUAMOOD: Bukan Sekadar Lucu, Boneka Karya Mahasiswa IPB Ini Bantu Petani Urban Cek Kondisi Tanah
images info

Foto Booth AQUAMOOD @rhemaelhizkia


Jika Kawan melihat sekilas, boneka-boneka mungil berwarna ungu ini mungkin akan kamu kira sebagai pajangan lucu di rak tanaman. Namun, jangan salah, di balik bentuknya yang "Bukan Sekadar Lucu", boneka karya mahasiswa IPB ini menyimpan teknologi yang bisa membantu jutaan pelaku pertanian urban di Indonesia untuk memantau kondisi tanah mereka—tanpa listrik, tanpa alat mahal, dan tanpa perlu jadi ahli kimia dulu.

Namanya AQUAMOOD, sebuah inovasi hasil karya 5 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam program PKM-Kewirausahaan (PKM-K).

Di balik nama yang terdengar catchy ini, ada solusi nyata untuk masalah yang selama ini sering luput dari perhatian: sulitnya penghobi tanaman dan petani urban memantau pH serta kelembapan media tanam mereka secara praktis.

Kota Makin Sempit, tapi Semangat Bertani Tak Pernah Padam

Urbanisasi yang terus meningkat di Indonesia membuat lahan pertanian di perkotaan kian terbatas. Namun, keterbatasan itu tidak lantas mematikan semangat bercocok tanam. Justru sebaliknya, pertanian urban lewat sistem hidroponik, vertikultur, pot, hingga polybag makin marak—apalagi di kota-kota besar seperti Bogor dan Depok.

Salah satu cabang yang makin dilirik dari tren ini adalah budi daya tanaman hias. Bukan sekadar hobi mengisi waktu luang, tanaman hias kini terbukti punya potensi ekonomi yang serius.

Sebuah penelitian terhadap 100 pelaku usaha tanaman hias di Kota Bogor bahkan menunjukkan bahwa kompetensi dan perilaku kewirausahaan pelakunya berpengaruh positif terhadap kinerja usaha—artinya, bisnis tanaman hias bukan cuma soal keberuntungan, tapi bisa dikembangkan secara serius layaknya usaha pada umumnya.

Peluang ini pula yang jadi dasar perhitungan pasar bagi AQUAMOOD. Potensi pasarnya terbilang besar, dengan total lebih dari 29 juta unit usaha pertanian dan belasan ribu rumah tangga pertanian urban di seluruh Indonesia yang bisa disasar secara bertahap, mulai dari fokus di wilayah Bogor sebagai langkah awal. Artinya, mengurus tanaman hias di tengah kota bukan cuma soal menyalurkan hobi, tetapi juga bisa jadi ladang usaha yang menjanjikan.

baca juga

Namun, di balik potensi besar itu, ada satu masalah klasik yang terus membayangi para penghobi dan pelaku usaha tanaman hias: bagaimana cara tahu kondisi tanah sudah pas atau belum?

Media tanam yang terlalu asam bisa menurunkan ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor, kalsium, dan magnesium, bahkan berpotensi menekan hasil tanaman hingga hampir separuh.

Belum lagi soal kelembapan—kalau kekeringan, akar kesulitan menyerap air; kalau kebanjiran, akar malah kekurangan oksigen.

Masalahnya, mengecek pH dan kelembapan tanah bukan perkara yang selalu mudah. Alat ukur konvensional sering kali dianggap ribet, mahal, atau butuh keahlian khusus untuk membaca hasilnya.

Dari sinilah ide AQUAMOOD lahir—sebagai solusi yang bisa mendukung keberlangsungan bisnis tanaman hias sekaligus memudahkan perawatannya sehari-hari.

Hijau, Ungu, dan Merah: Kode Rahasia di Balik Boneka Mungil Ini yang Bisa "Curhat" Soal Mood Tanahmu

Yang membuat AQUAMOOD unik adalah bahan bakunya: bunga telang atau Clitoria ternatea, si bunga biru yang sering kita temui sebagai pewarna alami untuk minuman atau nasi biru.

Nah, di balik warnanya yang cantik itu, bunga telang menyimpan zat bernama antosianin. Cara kerjanya mirip kertas lakmus yang sering dipakai di pelajaran kimia sekolah: warnanya berubah tergantung tingkat keasaman (pH) di sekitarnya. Jadi, semakin asam atau semakin basa media tanam, semakin berubah pula warna yang ditunjukkan.

Sifat unik inilah yang dimanfaatkan tim AQUAMOOD. Ekstrak bunga telang dicampur dengan dua bahan alami lain, yaitu kitosan (diolah dari cangkang udang atau kepiting) dan natrium alginat (diolah dari rumput laut), hingga membentuk gel kenyal yang disebut hidrogel.

Supaya gel ini tidak gampang hancur dan bentuknya tetap kokoh, tim menambahkan natrium tripolifosfat (TPP), bahan pengikat yang membuat hidrogel jadi lebih kuat dan lentur—bayangkan seperti membuat agar-agar jadi lebih padat dan kenyal.

baca juga

Hasil akhirnya adalah boneka kecil yang warnanya bisa berubah sesuai tingkat keasaman media tanam: hijau kalau kondisi tanah basa, ungu kalau netral, dan merah kalau asam.

Selain dengan warna, AQUAMOOD juga memberi sinyal melalui perubahan bentuknya sendiri. Jika media tanam mulai kering, badan boneka akan menyusut. Sebaliknya, ketika media tanam cukup basah, air yang terserap justru membuat antosianin di dalamnya luntur dan keluar dari boneka.

Jadi, cukup dengan menancapkan boneka ini ke media tanam dan memperhatikan perubahan warna serta ukurannya, penghobi tanaman sudah bisa tahu kondisi tanahnya tanpa perlu alat elektronik sama sekali.

Sebagai pelengkap, tim juga menambahkan gliserin yang berfungsi seperti pelembap alami, agar hidrogel tetap lentur dan tidak mudah retak, serta minyak cengkeh yang berperan sebagai bahan antibakteri alami. Berkat kombinasi ini, boneka AQUAMOOD bisa lebih awet meski tanpa bahan pengawet kimia.

Dari Laboratorium ke Tangan Konsumen

Seluruh proses produksi AQUAMOOD dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanah, Fakultas Pertanian IPB, mulai dari ekstraksi bunga telang, pembuatan larutan kitosan, hingga pencetakan hidrogel jadi bentuk boneka yang siap dikemas.

Sejak diproduksi pertama kali pada Juni 2026, AQUAMOOD sudah menghasilkan ratusan pouch yang dijual dengan harga terjangkau, sekitar Rp50.000 per pouch berisi 12 pcs boneka.

Produk ini dipasarkan lewat dua jalur sekaligus: langsung ke konsumen (B2C) dan lewat kerja sama dengan toko-toko tanaman hias serta toko alat pertanian di wilayah Bogor (B2B).

Tim AQUAMOOD pun aktif mempromosikan produknya lewat media sosial dan turut membuka booth di berbagai acara, termasuk pameran produk inovatif mahasiswa.

Hasilnya, produk ini sudah menjangkau penjualan hingga ke delapan wilayah di Indonesia, mulai dari Bogor, Jakarta, Bekasi, Bali, Depok, Malang, Riau, hingga Tangerang.

Bukan Hanya tentang Keuntungan, tetapi Juga Menjaga Bumi

Menariknya, di balik model bisnis yang menjanjikan, AQUAMOOD juga membawa misi yang lebih besar: mendukung pertanian yang ramah lingkungan. Karena berbahan dasar alami dan mudah terurai (biodegradable), produk ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular.

Kandungan kitosan di dalamnya bahkan terbukti punya sifat antimikroba yang membantu menghambat pertumbuhan jamur pada media tanam, sementara kandungan fosfor dari TPP turut menyuburkan tanah.

Dengan pendekatan yang sederhana nan berdampak ini, AQUAMOOD tak hanya menjawab kebutuhan praktis penghobi tanaman hias dan pelaku pertanian urban. Namun, juga turut mendorong gaya bertani yang lebih efisien dan berkelanjutan—selaras dengan upaya global mencapai ketahanan pangan dan kota yang lebih hijau.

Jadi, lain kali jika Kawan GNFI melihat boneka mungil warna-warni menancap di pot tanaman seseorang, jangan buru-buru mengira itu cuma hiasan. Bisa jadi, itu adalah AQUAMOOD—sang penjaga mood tanah yang siap membantu tanamanmu tumbuh lebih optimal. AQUAMOOD, Good Mood Soil!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.