smk go global sektor perkebunan kelapa sawit digelar di sebatik 20 peserta disiapkan untuk bekerja ke luar negeri - News | Good News From Indonesia 2026

SMK Go Global Sektor Perkebunan Kelapa Sawit Digelar di Sebatik, 20 Peserta Disiapkan untuk Bekerja ke Luar Negeri

SMK Go Global Sektor Perkebunan Kelapa Sawit Digelar di Sebatik, 20 Peserta Disiapkan untuk Bekerja ke Luar Negeri
images info

SMK Go Global Sektor Perkebunan Kelapa Sawit Digelar di Sebatik, 20 Peserta Disiapkan untuk Bekerja ke Luar Negeri (Foto: Dok. Harcungcung. S.Pd)


Program SMK Go Global Sektor Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 resmi digelar di Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Program yang dilaksanakan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Utara tersebut bekerja sama dengan LKP Roby Perbatasan.

Pelaksanaan program di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini menjadi salah satu upaya pemerintah meningkatkan kompetensi sumber daya manusia sekaligus membuka akses penempatan kerja bagi calon pekerja migran Indonesia (CPMI) melalui jalur resmi.

Pelatihan dimulai pada 29 Agustus 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 12 September 2026 dengan total durasi 140 jam. Sebanyak 20 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pelatihan yang dipusatkan di LKP Roby Perbatasan.

Peserta terdiri atas 9 orang dari Provinsi Lampung, 1 orang dari Sulawesi Tenggara, 2 orang dari Sulawesi Selatan, 4 orang dari Nusa Tenggara Timur, serta 4 orang dari Kalimantan Utara.

Pimpinan LKP Roby Perbatasan, Harcungcung, S.Pd., atau yang akrab disapa Kak Ocha, mengatakan pelatihan dilaksanakan secara intensif setiap hari.

"Pelaksanaan kegiatan ini kami selenggarakan dengan komitmen penuh. Peserta mengikuti pembelajaran mulai pukul 07.30 WITA hingga pukul 16.30 WITA dan diawali dengan apel pagi sebelum masuk pembelajaran," sebut Harcungcung kepada penulis.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan, peserta akan mendapatkan sertifikat kompetensi sektor perkebunan kelapa sawit. Tak hanya pelatihan, pemerintah juga menanggung berbagai kebutuhan peserta selama mengikuti program.

Peserta mendapatkan fasilitas kamar, konsumsi tiga kali sehari, snack dua kali sehari, uang harian selama pelatihan, serta biaya uji kompetensi. Seluruh fasilitas tersebut dibiayai pemerintah melalui KP2MI.

(Foto: Dok. Harcungcung, S.Pd)
info gambar

(Foto: Dok. Harcungcung, S.Pd)


Warga Sebatik Diminta Tak Lewatkan Peluang

Pelaksanaan program berskala nasional di wilayah perbatasan mendapat apresiasi dari pemerintah daerah.

Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum, Hasrul, S.IP., M.A.P., mengapresiasi LKP Roby Perbatasan yang dinilai selama ini konsisten memberikan layanan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat, khususnya masyarakat di wilayah perbatasan.

Namun, Hasrul juga menyoroti rendahnya keterlibatan masyarakat Sebatik dalam program tersebut.

Dari 20 peserta yang mengikuti pelatihan, hanya satu orang yang berasal dari Sebatik. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian agar program serupa ke depan dapat lebih banyak dimanfaatkan masyarakat setempat.

"Dalam pelatihan ini ternyata kegiatan nasional yang dilaksanakan oleh LPK Roby Perbatasan, cuma kenapa warga Sebatik hanya satu orang saja yang ikut dalam pelatihan ini. Ini yang perlu kita sosialisasi agar program SMK Go Global ini warga perbatasan harus mengambil peluang ini, karena setelah dilatih langsung ditempatkan kerja," ujar Hasrul.

Ia menilai keberadaan LKP Roby Perbatasan menjadi bagian penting dalam membuka akses pendidikan dan pelatihan kerja bagi masyarakat di kawasan perbatasan.

"Program ini sangat penting dalam meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan. Keberadaan LKP Roby Perbatasan yang mampu menjangkau daerah mulai dari perbatasan Sabah hingga Sarawak Malaysia adalah bukti dedikasi yang luar biasa," imbuhnya.

Disiapkan untuk Penempatan Kerja

Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Nunukan. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Nunukan diwakili Kepala Bidang Penempatan Kerja.

Ia mengapresiasi antusiasme pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan program.

Kepada seluruh peserta, ia berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian pelatihan hingga selesai dan mempersiapkan diri untuk proses penempatan kerja melalui perusahaan yang nantinya melakukan perekrutan.

"LKP Roby Perbatasan adalah lembaga yang selama ini kami percaya dan menjadi lembaga yang memfasilitasi kebutuhan kerja untuk masyarakat perbatasan. Kami berharap pelaksanaan ini berjalan dengan lancar dan sesuai target yang diharapkan," sebutnya.

Program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan keterampilan kepada peserta, tetapi juga menjadi jembatan menuju dunia kerja, khususnya bagi masyarakat yang ingin bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit.

baca juga

BP3MI: Peluang Kerja Harus Ditempuh Secara Legal

Kepala BP3MI Kalimantan Utara menegaskan Program SMK Go Global merupakan program prioritas pemerintah untuk membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

Program pelatihan sektor perkebunan kelapa sawit ini disebut menjadi pelaksanaan pertama yang secara khusus menyasar sektor pertanian kelapa sawit.

Kalimantan Utara, khususnya Kabupaten Nunukan, dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan tenaga kerja sektor tersebut. Selain menjadi wilayah yang memiliki aktivitas perkebunan kelapa sawit, Kabupaten Nunukan juga berbatasan langsung dengan Malaysia.

Wilayah Sabah, Malaysia, diketahui memiliki perkebunan kelapa sawit dalam jumlah besar sehingga kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut menjadi peluang bagi pekerja Indonesia.

Kondisi geografis Nunukan yang menjadi salah satu pintu keluar-masuk masyarakat menuju Tawau, Malaysia, juga menjadi alasan pentingnya penyiapan calon pekerja migran melalui jalur resmi.

"Kami di BP3MI mendukung program seperti ini karena menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas SDM, membuka peluang kerja, dan dapat mengurangi angka pengangguran serta calon pekerja migran Indonesia sudah tidak ada lagi yang melalukan perjalanan ke luar negeri untuk bekerja sebagai non prosedural (ilegal) tapi dengan program ini CPMI kita yang sudah di latih nantinya akan di tempatkan kerja sesuai dengan prosedural (Legal/Resmi)," tuturnya.

Program ini diharapkan dapat mengubah pola penempatan pekerja migran Indonesia, khususnya dari wilayah perbatasan, agar lebih terarah, memiliki kompetensi, serta dilakukan melalui mekanisme resmi.

Dengan demikian, masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri tidak perlu menempuh jalur nonprosedural yang berisiko terhadap perlindungan dan keselamatan pekerja.

(Foto: Dok. Harcungcung, S.Pd)
info gambar

(Foto: Dok. Harcungcung, S.Pd)


Diharapkan Berlanjut Tahun Berikutnya

Atas nama BP3MI Kalimantan Utara, Kepala BP3MI juga menyampaikan apresiasi kepada Harcungcung, S.Pd., selaku Pimpinan LKP Roby Perbatasan atas dedikasi dan komitmennya dalam melaksanakan Program SMK Go Global sektor pertanian kelapa sawit.

Ia berharap program tersebut dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya dan menjangkau lebih banyak masyarakat di kawasan perbatasan.

"Program ini sangat penting bagi masyarakat 3T. Semoga terus berlanjut untuk menciptakan SDM unggul, produktif, dan siap kerja," ujarnya.

Pelaksanaan Program SMK Go Global sektor perkebunan kelapa sawit di Sebatik Tengah menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi masyarakat di kawasan perbatasan.

baca juga

Bagi Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, program tersebut sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan di sektor perkebunan kelapa sawit melalui jalur penempatan yang resmi dan terprosedur.

LKP Roby Perbatasan pun kembali menunjukkan perannya sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan yang memberikan akses peningkatan kompetensi bagi masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan.

Program ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi semakin banyak masyarakat perbatasan untuk memperoleh keterampilan, mendapatkan pekerjaan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa menjadikan keterbatasan geografis sebagai hambatan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.