Liburan ke rumah kakek di suatu kampung di Jawa Tengah memberi pengalaman sederhana yang justru sulit dilupakan. Saat itu, kakek penulis menyuguhi makanan lokal bernama uwi yang baru saja direbus. Rasanya gurih, pulen, dan seratnya terasa tegas ketika dikunyah. Kawan GNFI, dari sepiring uwi itulah penulis mulai mengenal kembali kekayaan pangan Indonesia.
Uwi merupakan tanaman umbi dari genus Dioscorea yang telah lama dimanfaatkan masyarakat. Tanamannya merambat pada penopang, termasuk pohon besar, lalu membentuk umbi di dalam tanah.
Uwi umumnya mulai tumbuh ketika musim hujan dan mengering ketika kemarau tiba. Siklus alami tersebut membantu masyarakat mengenali waktu panen tanpa teknologi rumit.
Keberadaan uwi ternyata bukan sekadar cerita dari dapur keluarga. Penelitian Trimanto dan Lia Hapsari dalam Diversity and Utilization of Dioscorea spp. Tuber as Alternative Food Source in Nganjuk Regency, East Java (2015) menemukan empat spesies Dioscorea.
Uwi (Dioscorea alata) menjadi salah satu jenis yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Indonesia juga memiliki keragaman uwi yang sangat menarik. Bentuk, ukuran, warna kulit, dan warna dagingnya dapat berbeda antarkultivar. Yalindua, Sudarsono, Djoefrie, Bintoro, dan Setiawan dalam Potensi Genetik Klon Tanaman Uwi asal Banggai Kepulauan sebagai Sumber Pangan (2014) menemukan keragaman morfologi dan genetik yang tinggi. Keragaman tersebut merupakan modal penting untuk konservasi dan pengembangan pangan masa depan.
Keunggulan uwi juga terlihat dari kandungan nutrisinya. Fauziah, Mas'udah, Hapsari, dan Nurfadilah dalam Biochemical Composition and Nutritional Value of Fresh Tuber of Water Yam Local Accessions from East Java, Indonesia (2020) meneliti 15 aksesi uwi.
Kandungan karbohidratnya mencapai 17,10 sampai 29,37 persen, sedangkan seratnya mencapai 6,70 sampai 11,62 persen. Kawan GNFI, data tersebut menunjukkan bahwa uwi layak dipertimbangkan sebagai sumber pangan bergizi.
Sayangnya, potensi uwi belum sebanding dengan popularitasnya. Masyarakat lebih akrab dengan beras, gandum, kentang, dan berbagai produk turunannya. Akibatnya, pangan lokal seperti uwi berisiko hanya menjadi kenangan bagi generasi tertentu.
Padahal, diversifikasi pangan membutuhkan lebih banyak pilihan sumber karbohidrat yang sesuai dengan kekayaan lingkungan Indonesia.
Langkah pertama adalah mengubah cara kita memandang uwi. Uwi tidak seharusnya dianggap sebagai makanan kampung yang ketinggalan zaman.
Cara tradisional seperti merebus dan mengukus justru perlu dipertahankan sebagai identitas kuliner. Setelah itu, uwi dapat dikembangkan menjadi tepung dan berbagai pangan olahan modern.
Inovasi juga dapat menjadi cara menarik generasi muda mengenal uwi. Uwi dapat diolah menjadi kukis, roti, mi, makanan ringan, atau sajian kreatif lainnya. Sekolah dapat mengenalkannya melalui kebun pangan, pengamatan tanaman, dan dokumentasi resep keluarga. Kawan GNFI, ketika pangan lokal hadir dalam pengalaman yang menyenangkan, pelestarian tidak lagi terasa seperti kewajiban.
Pengembangan uwi juga membutuhkan kolaborasi antara petani, peneliti, sekolah, pelaku usaha, dan masyarakat. Petani dapat menjaga varietas lokal, sedangkan peneliti membantu mengidentifikasi karakter unggul serta teknik budidayanya.
Pelaku usaha dapat mengembangkan produk bernilai tambah tanpa menghilangkan identitas uwi. Dengan kolaborasi tersebut, uwi berpeluang menjadi bagian dari ekonomi lokal sekaligus memperkuat diversifikasi pangan.
Pengalaman menyantap uwi di rumah kakek akhirnya mengubah cara pandang penulis terhadap makanan sederhana. Satu umbi dapat menyimpan cerita tentang musim, tanah, budaya, ilmu pengetahuan, dan masa depan.
Uwi mengajarkan bahwa pangan masa depan tidak selalu harus berasal dari tanaman baru. Bisa jadi, jawabannya telah lama tumbuh di sekitar kita dan menunggu untuk kembali dihargai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


