Belakangan ini, cuaca sering tidak bersahabat, kadang mendung yang membuat hari terasa gelap. kadang juga cerah, tetapi harus selalu siap sedia tabir surya. Bertahun-tahun kita mungkin mengunduh suatu aplikasi yang bisa mempermudah hidup untuk menentukan rencana harian yang akan mendatang, yaitu Info BMKG.
Namun, apakah Kawan GNFI pernah bertanya-tanya bagaimana bisa cuaca yang ada di dalam website atau aplikasi BMKG diramal?
Mendung belum tentu hujan, cerah belum tentu terik! Begitu rupanya perempumaan kalimat untuk mengatasi keluhan mengenai cuaca. Apalagi cuaca di Sumatra Utara yang kerap dilintasi oleh zona pola hujan Ekuatorial.
Zona Ekuatorial sendiri adalah wilayah iklim yang terletak di garis katulistiwa (ekuator). Ciri utama dari zona ini adalah 2 puncak musim hujan dalam satu tahun dan musim kemarau yang tidak benar-benar kering. Hal itulah yang menyebabkan kemarau di Sumatra Utara tidak pernah kekeringan air. Namun, karena kelembapan udara sangat tinggi, membuat kondisi udara yang seringkali sumuk.
Sejarah Stasiun Klimatologi Sumatra Utara
Pada tahun 1965 disepakati pendirian Pos Meteorologi Pertanian Sampali yang dipimpin oleh Tamat Karo-Karo dengan menempati area seluas 2,5 hektar yang merupakan berkas pembibitan tembakau.
Lokasi yang saat itu masih tergolong jauh dari pemukiman penduduk, mejadikan wilayah stasiun ini sangat ideal karena untuk menjaga keakuratan data yang akan diukur sehingga tidak menyebabkan fenomena noise lingkungan.
Berdirinya Stasiun Klimatologi Kelas I Sampali Medan didasari akan kebutuhan untuk melakukan pengamatan iklim di Sumatra Utara, khususnya Perkebunan Sampali. Sampali adalah sebuah desa kecil pada koordinat 3. 62147 Lintang Utara dan 98.71477 Bujur Timur di Kabupaten Deli Serdang, tempat di mana tembakau Deli yang tersohor di dunia. Dibudidayakan di sini karena berbatasan langsung dengan Kota Medan, maka Sampali sering disebut juga dengan Sampali Medan.
Tugas Pokok Stasiun Klimatologi sendiri di antaranya adalah pengelolaan data, pemeliharaan, tugas administratif, melakukan pengamatan, pelayanan jasa, Koordinasi dan Kerjasama, serta tugas tambahan lainnya.
Setelah mengetahui sejarah berdirinya Stasiun Meteorologi Sumatera Utara, mari Kawan GNFI ikut merasakan keseruan mengikuti penjelajalan di Taman Alat yang merupakan sumber dari ramalan yang akan Kawan GNFI rasakan manfaatnya.
Taman Alat Stasiun Klimatologi Sumatera Utara
Seperti peramal yang membutuhkan kartu tarot untuk memprediksi nasib yang dipercaya oleh beberapa orang, cuaca pun mempunyai alat untuk mengetahui kondisi iklim yang informasinya akan dibagikan kepada masyarakat dengan data yang akurat dan melalui alat-alat yang canggih.
Untuk mengetahui hasilnya, tentu saja tidak asal menebak. Pada Taman Alat inilah banyak alat instrumen yang biasa digunakan para pegawai BMKG. Area ini adalah area khusus terbuka yang sekilas kita lihat seperti taman, mempunyai rumput hijau serta lapangan luas. Alat-alat yang dimaksud antara lain:
- Sangkar Meteorologi adalah kotak kayu putih pelindung alat pengukur suhu dan kelembapan dari hujan serta radiasi langsung. Alat ini terlihat yang paling aesthetic di mata orang awam seperti penulis.
- Panci Penguapan disebut juga Open Pan Evaporimeter yang bentuknya seperti bak air besar yang fungsinya untuk mengukur jumlah penguapan air murni ke udara.
- Alat Ukur Jumlah Curah Hujan (PH OBS) adalah alat manual yang digunakan BMKG untuk mengukur jumlah curah hujan yang jatuh dalam periode 24 jam.
- Termometer Tanah Gundul dinamakan gundul karena area ini memang sengaja untuk dipotong rumputnya supaya mengukur suhu temperatur tanah karena tanah gundul mampu menyerap panas lebih cepat. Pengukurannya ada yang dangkal dan dalam.
- Termometer Tanah Berumput berbeda dengan tanah gundul hanya untuk perbandingan pengukuran suhu yang lebih stabil seperti lahan pertanian atau perkebunan.
- PM 2,5 (alat untuk mengukur kualitas udara) berguna untuk bekerja dengan menyedot udara luar, kemudian menghitung konsentrasi partikel mikro berbahaya tersebut secara otomatis.
Setelah melihat langsung dan mempelajarinya dari para petugas BMKG, penulis merasa pemantauan cuaca tidak semudah yang dipikirkan selama ini. Ternyata, satu aplikasi itu menyimpan cerita yang cukup panjang untuk penyajiannya kepada masyarakat dan Kawan GNFI semua.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


