Di balik aktivitas memilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, terdapat keluarga yang terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Setiap hari, mereka berhadapan dengan lingkungan kerja yang tidak mudah, sekaligus menghadapi berbagai tantangan untuk menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Namun, memahami kehidupan mereka tidak cukup hanya dengan melihat aktivitas di lapangan. Ada pengalaman, kebutuhan, dan harapan yang perlu didengar secara langsung.
Karena itu, tim PERNIK PKM-RSH IPB University menghadirkan ruang diskusi melalui Focus Group Discussion(FGD) untuk mendengar langsung pengalaman dan kebutuhan masyarakat.
FGD menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan berdasarkan pengalaman yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
FGD melibatkan berbagai kelompok, yaitu golongan tua, pejuang pemilah sampah di wilayah TPA bagian kota, pejuang pemilah sampah di wilayah TPA bagian kabupaten, golongan muda, pasangan suami-istri pejuang pemilah sampah, serta masyarakat non-pejuang pemilah sampah.
Keberagaman peserta membuat diskusi menghadirkan sudut pandang yang berbeda mengenai kehidupan keluarga pejuang pemilah sampah.
Setiap kelompok memiliki pengalaman dan cara pandang masing-masing. Golongan tua membawa pengalaman yang lebih panjang mengenai perubahan kehidupan masyarakat. Golongan muda memberikan pandangan mengenai masa depan dan kesempatan yang ingin mereka dapatkan. Sementara itu, para pejuang pemilah sampah dan pasangan suami-istri dapat menceritakan secara langsung tantangan yang mereka hadapi dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Kehadiran masyarakat non-pejuang pemilah sampah juga memberikan perspektif lain mengenai kondisi sosial di sekitar TPA. Perbedaan suara tersebut membuat diskusi tidak hanya berfokus pada satu sisi, tetapi memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kehidupan keluarga pejuang pemilah sampah.
Mendengar Kebutuhan dari Mereka yang Mengalami
Dari diskusi tersebut, muncul 5 kebutuhan utama yang dinilai penting untuk mendukung kehidupan keluarga pejuang pemilah sampah.
Pertama, satgas darurat dan pos kesehatan. Aktivitas memilah sampah memiliki risiko keselamatan dan kesehatan. Berbagai kondisi di lingkungan kerja membuat akses terhadap pertolongan pertama dan layanan kesehatan menjadi kebutuhan penting.
Keberadaan pos kesehatan di sekitar lokasi dapat membantu memberikan penanganan ketika terjadi kondisi darurat, sekaligus mempermudah keluarga memperoleh akses terhadap layanan kesehatan.
Kebutuhan ini menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan pendapatan. Sebelum berbicara mengenai pengembangan ekonomi, aspek keselamatan dan kesehatan perlu menjadi perhatian karena menjadi bagian dari kemampuan keluarga untuk terus menjalankan kehidupan dan pekerjaan mereka.
Kedua, pengembangan keterampilan keluarga. Ketergantungan pada aktivitas memilah sampah membuat keluarga rentan terhadap perubahan harga barang dan kondisi ekonomi. Ketika pendapatan dari hasil pemilahan tidak menentu, keluarga membutuhkan pilihan lain untuk menjaga kestabilan penghasilan.
Pengembangan keterampilan dapat menjadi salah satu cara untuk membuka peluang tersebut. Keterampilan yang sesuai dengan potensi dan kondisi keluarga dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif lain.
Dengan begitu, keluarga tidak hanya memiliki satu sumber penghasilan, tetapi juga memiliki alternatif ketika menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Ketiga, penguatan pembiayaan keuangan keluarga produktif. Pendapatan yang tidak selalu sama setiap hari membuat kemampuan mengelola keuangan menjadi penting. Penguatan kapasitas keuangan diharapkan dapat membantu keluarga mengatur pendapatan sekaligus mengembangkan kegiatan produktif yang dapat mendukung perekonomian rumah tangga.
Pengelolaan keuangan juga berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menentukan prioritas. Pendapatan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat diarahkan untuk kebutuhan jangka panjang.
Dengan perencanaan yang lebih baik, keluarga diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan usaha atau kegiatan produktif yang dapat memperkuat kondisi ekonomi rumah tangga.
Keempat, penguatan perlindungan sosial dan pengurangan ketidakpastian ekonomi. Ketika pendapatan berubah-ubah sementara kebutuhan terus berjalan, keluarga membutuhkan jaring pengaman untuk menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Perlindungan sosial dapat menjadi salah satu bentuk dukungan agar keluarga tidak semakin rentan ketika mengalami situasi sulit. Akses terhadap program perlindungan sosial yang tepat juga dapat membantu mengurangi beban keluarga ketika menghadapi kebutuhan mendesak maupun perubahan kondisi ekonomi.
Kelima, beasiswa dan kemudahan akses pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi berikutnya. Bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi, biaya pendidikan dapat menjadi tantangan tersendiri.
Dukungan berupa beasiswa dan kemudahan akses pendidikan diharapkan dapat membantu anak-anak dari keluarga pejuang pemilah sampah memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik. Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga membuka pilihan kehidupan yang lebih luas bagi generasi berikutnya.
Lima Kebutuhan, Satu Harapan
Kelima kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan keluarga pejuang pemilah sampah tidak hanya berkaitan dengan pendapatan. Kesehatan, keterampilan, pengelolaan keuangan, perlindungan sosial, dan pendidikan saling berkaitan dalam membangun ketahanan keluarga.
Jika kesehatan dan keselamatan menjadi dasar untuk menjalani aktivitas sehari-hari, keterampilan dan penguatan ekonomi dapat membantu keluarga memiliki sumber penghidupan yang lebih beragam.
Di sisi lain, perlindungan sosial dapat menjadi jaring pengaman ketika keluarga menghadapi ketidakpastian, sementara pendidikan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi berikutnya.
Dengan demikian, pemberdayaan keluarga pejuang pemilah sampah membutuhkan pendekatan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat kemampuan keluarga untuk menghadapi masa depan.
Dari Diskusi menjadi Arah Perubahan
Bagi tim PERNIK PKM-RSH IPB University, FGD menjadi ruang penting untuk memahami persoalan berdasarkan pengalaman masyarakat sendiri. Diskusi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat bukan hanya penerima program, tetapi juga memiliki pengetahuan mengenai kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi.
Perbedaan suara yang muncul justru memperkaya pemahaman tim mengenai kondisi di lapangan. Apa yang terlihat sederhana dari luar ternyata memiliki persoalan yang berlapis ketika dilihat dari pengalaman masyarakat yang menjalaninya secara langsung.
Pada akhirnya, pemberdayaan tidak seharusnya hanya berbicara tentang apa yang dapat diberikan kepada masyarakat. Pemberdayaan juga perlu dimulai dengan mendengarkan apa yang benar-benar mereka butuhkan.
Dari FGD ini, suara para pejuang pemilah sampah menjadi pijakan untuk merancang langkah yang lebih tepat. Bukan hanya agar mereka mampu bertahan dalam kondisi yang ada, tetapi juga agar keluarga memiliki kesempatan untuk menjadi lebih kuat, mandiri, dan memiliki pilihan kehidupan yang lebih baik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


