Perkembangan teknologi medis yang pesat, dapat membuat penanganan kasus tumor dan kanker otak kini mengalami pergeseran paradigma yang signifikan.
Adanya tumor di area otak termasuk akibat penyebaran (metastasis) dari organ tubuh lain sering kali memperbanyak kekhawatiran masyarakat akan prosedur bedah invasif. Padahal, tindakan operasi bukanlah satu-satunya maupun opsi mutlak dalam penanganan setiap kasus tumor otak.
Dokter Spesialis Bedah Saraf dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp.BS, menegaskan bahwa tidak semua penemuan tumor di otak memerlukan tindakan pembedahan. Pendekatan medis terkini lebih mengedepankan evaluasi terukur berdasarkan kondisi klinis dan karakteristik tumor pada setiap pasien.
"Apakah selalu kalau sudah ketemu tumor di otak itu harus operasi? Saya jawab di sini adalah tidak selalu," ujar Made di sela-sela agenda MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa.
Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp.BS | Foto: Siloam
Pertimbangan Klinis Sebelum Tindakan Bedah
Menurut dr. Made, indikasi pembedahan diputuskan secara cermat dengan memperhitungkan berbagai parameter medis. Dokter akan menilai tingkat tekanan di dalam rongga otak, ukuran tumor, tingkat keparahan gejala atau gangguan fungsi saraf yang ditimbulkan, serta tujuan spesifik dari tindakan medis yang direncanakan.
"Operasi itu merupakan pilihan apabila terjadi, misalnya, tekanan di dalam otaknya tinggi, tumornya sudah mulai mengganggu, ukurannya sudah sangat besar, dan memang tujuan kita adalah untuk mencari tahu isinya apa atau jenisnya apa," jelasnya.
Dalam dunia medis, tumor otak terbagi menjadi dua kategori utama:
Tumor Primer: Tumor yang tumbuh dan berasal dari jaringan otak itu sendiri.
Tumor Sekunder (Metastasis): Tumor yang timbul akibat sel kanker dari organ lain—seperti paru-paru atau payudara yang menyebar hingga ke otak.
Pendekatan Penanganan Tumor Sekunder vs. Primer
Pada kasus tumor sekunder di mana asal-usul kanker induk sudah teridentifikasi, tindakan pembedahan sering kali dapat dihindari apabila ukuran tumor di otak relatif kecil dan tidak menimbulkan gejala neurologis yang mengancam jiwa.
"Kalau tumor otaknya dari luar (sekunder), kita tidak harus selalu operasi karena sumbernya sudah ketahuan dari luar. Misalnya dari tumor paru atau dari tumor yang lain," tutur Made.
Sebagai gantinya, tim medis dapat memanfaatkan beragam pilihan terapi non-bedah modern. Beberapa modalitas pengobatan alternatif yang efektif antara lain terapi radiasi, kemoterapi terarah, hingga teknologi presisi tinggi seperti Stereotactic Radiosurgery (SRS) yang mampu menembakkan radiasi dosis tinggi tepat ke sasaran tumor tanpa perlu membuat sayatan pada tempurung kepala.
Sebaliknya, pendekatan berbeda diterapkan jika tumor tergolong primer. Apabila keberadaan tumor hanya terdeteksi di area otak tanpa ada indikasi penyebaran dari organ lain, identifikasi jenis sel secara histopatologi menjadi langkah krusial.
Dalam skenario ini, prosedur bedah baik berupa pengambilan sampel jaringan (biopsi) maupun pengangkatan tumor secara menyeluruh tetap diperlukan untuk menentukan diagnosis pasti serta menentukan rencana terapi lanjutan yang tepat bagi pasien.
Layanan Klinis Kanker Komperehensif
Melalui transformasi “Next Gen Siloam”, Siloam International Hospitals telah mengembangkan konsep Hospital of the Future yang memadukan kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, dan keunggulan klinis dengan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan pasien.
Komitmen ini diwujudkan melalui Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi, Flagship Center of Excellence Siloam di bidang kanker yang menghadirkan layanan onkologi komprehensif bagi pasien di Indonesia.
uAngio AVIVA Intelligent Angiography System | Foto: Siloam
MRCCC Siloam Semanggi memiliki empat teknologi pencitraan dan intervensi generasi terbaru, yakni uMI Panvivo PET/CT, Symbia Pro.specta SPECT/CT, Spectral CT 7500, serta uAngio AVIVA Intelligent Angiography System.
Keempat inovasi teknologi ini mendukung berbagai tahapan penanganan kanker, mulai dari deteksi dan penentuan stadium, karakterisasi jaringan dan evaluasi penyebaran penyakit, hingga tindakan intervensi minimal invasif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

